
Lagi-lagi sebuah cerita tentang dia. Entah kenapa aq tak bosan-bosannya bercerita tentang dia, mungkin karena dirinya memang selalu berputar-putar di dalam benakku, mungkin juga karena sosoknya tak pernah beranjak dari hatiku.
Beberapa waktu lalu hatiku galau, berhari-hari ku dikejar ketakutan jika suatu saat ia beranjak pergi. Padahal hubungan kami semakin baik, semakin dekat, dan perhatiannya padaku semakin dapat kurasakan. Semua hal yang kami jalani benar-benar nyata, walau kalimat ajaib itu memang belum juga terucapkan.
Kecurigaanku akan beberapa hal seakan membunyikan alarm di gendang telingaku. Selama ini, berbagai tanya memang kadang muncul di benakku. Tapi beberapa waktu lalu semua pertanyaan itu berubah menjadi kecurigaan, asumsi-asumsi buruk itu tiba-tiba terasa merupakan sebuah kenyataan.
Tapi akhirnya aku lelah sendiri, terlebih setelah seorang kawan mengingatkan bahwa rasa curiga itu bisa berubah menjadi racun. Aku tak mau, aku tidak mau teracuni oleh kecurigaanku sendiri, aku juga tak mau ia tersakiti oleh racun kecurigaanku.
Saat ini, akhirnya kudapat menenangkan diri, menenangkan hati. Setelah kumerenungkan semuanya, merenungkan perjalanan kami selama ini, aku meyakinkan diri akan menjalani ini dengan kesabaran dan keikhlasan. Aku akan memulai semua langkah itu dari diriku. Aku akan tetap menyayanginya dengan ketulusan hati. Aku akan tetap mencintainya dengan ketulusan jiwa. Aku tak akan menyembunyikan rasa dihatiku dihadapannya lagi.
Dan jika memang ia yang terbaik bagiku dan aku yang terbaik baginya. Allah pasti akan membukakan jalan terbaik bagi kami.
Aku tak menafikkan jika hatiku pasti akan sangat sakit jika kenyataannya tak sesuai harapanku. Tapi aku tak mau berada dalam ketakutan akan sesuatu hal yang belum terjadi. Walaupun aku tetap harus menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk itu.
Sist, terimakasih karena kau selalu ada, disaat mataku berbinar karenanya ataupun mataku kelabu karena rinduku padanya.
Sist, terimakasih karena kau selalu setia membunyikan alarm itu. Kutahu itu semua karena kasih dan sayangmu padaku.
*Jakarta, 27 Maret 2008.
** Pic : disinilah semua rasa itu terpercikkan kembali...dan membangunkanku dari tidur...