Aku Langit dan Bumi yang Kupijak

dHiRa's posts with tag: belajar bareng

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag belajar bareng

Saya menulis ini hanya ingin menyuarakan apa yang saya rasakan. Hal yang terbersit ketika bangsa ini semakin diinjak-injak dan dipandang sebelah mata.

 

Bukan karena kesombongan atau keangkuhan, namun lebih sebagai reaksi ketika bangsa dan negara saya tidak lagi dihargai. Hingga jati diri dan harga diri bangsa ini semakin terancam menguap.

 

 

Beberapa hari belakangan ini, ramai dibicarakan mengenai penggunaan lagu “Rasa Sayange”  sebagai lagu resmi yang digunakan dalam promosi Pariwisata Malaysia “Truly Asia”

 

Lagu tersebut sendiri jelas merupakan lagu rakyat dari Timur Indonesia, khususnya Maluku.

 

Bahasa dan langgam yang digunakan dalam lagu “Rasa Sayange” jelas berasal dari Maluku.

 

Memang pengarang lagu tersebut tidak diketahui / NN, hal ini lebih dikarenakan lagu ini adalah lagu rakyat yang sudah sangat lama/tua. Sehingga sangatlah aneh jika karena alasan itu lagu ini bisa diklaim dengan mudahnya sebagai lagu yang berasal dari Malaysia.

 

Alasan lain yang mereka gunakan adalah lagu Rasa Sayange memang sudah menjadi lagu rakyat nusantara/Melayu (Indonesia-Malaysia).

 

Argumentasi inipun tetap aneh, karena Indonesia sendiri memiliki beragam akar budaya, dan adat istiadat serta kesenian Melayu dan Maluku sendiri memiliki pola yg khas dan berbeda.

 

Kebudayaan/kesenian Indonesia Melayu mungkin akan bersinggungan dengan kebudayaan Malaysia. Saya sebut mungkin karena memang berakar sama, namun harus diingat bahwa bukan berarti semuanya sama.

 

Terlebih kebudayaan dari Indonesia Timur(Maluku dsb) semakin tidak mungkin bersinggungan dengan kebudayaan Malaysia. Karena memiliki ciri/bahasa/langgam yang sangat berbeda. Sehingga rasanya kok ya dipaksakan sekali…

 

Jadi pantas jika rakyat Indonesia bereaksi dan berkeberatan, terlebih lagi lagu tersebut digunakan unutk promosi kebudayaan, suatu hal yang bersifat resmi oleh Lembaga Pemerintah pula. Dan pengklaiman ini bukanlah hal yang pertama terjadi.

 

Saat ini saya sangat berharap, rencana Seniman Maluku untuk menyikapi hal ini mendapat hasil yang terbaik. Tentunya dengan sokongan kita bersama dan juga pemerintah.

 

Di luar itu, semoga kita bangsa Indonesia, rakyat Indonesia menjadi terpecut untuk lebih perduli dengan akar budaya yang kita miliki.

 

Betapa banyak kekayaan yang kita miliki namun perlahan hilang dan dicuri. Cukup sudah tanah, hasil budaya dan Sumber Daya Alam kita direnggut dari kita. Jangan sampai ketidakperdulian kita membuat kita tak lagi memiliki jati diri.

 

Jenis-jenis makanan yang dengan tragisnya diklaim milik orang lain. Hasil budaya dan kesenian yang diklaim sebagai milik bangsa lain. Sesungguhnya terjadi karena ketidakperdulian kita.

 

Untuk pemerintah, sudah saatnya perduli dengan negri ini, dengan harga diri bangsa ini. Tolong agar pemerintah dapat menyokong dan mendorong agar apa yang kita miliki diakui secara hukum. Janganlah mempersulit pengurusan lisensi hasil negri sendiri dengan prosedur yang berbelit-belit.

 

Untuk teman semua, ayo sama-sama kita saling mengingatkan, perduli dan menghadapinya dengan pintar dan mertabat.

 

Tanpa perlu meneriakkan hal yang lebih karena emosi sesaat yang justru semakin memberikan kesan bahwa kita adalah bangsa tidak santun.

 

Untuk saudaraku di negri sana, ayo kita saling menghargai dan menghormati. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

 

 

*Jakarta, 4 Oktober 2007


Blog EntryRenungan......Sep 19, '07 5:45 AM
for everyone

Renungan.........

 

 

Seorang Muslim tua Amerika hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan

sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda.

Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di

dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali

menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun

semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk

membaca Qur'an seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya,

dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih

kebaikan dari membaca Qur'an?"

 

Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar

sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai

dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua

air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

 

Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat

lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb

untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi

tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan

terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air

dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu

mengambil ember sebagai gantinya.

 

Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang

arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar

pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali

bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek

nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor

keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat

tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang

sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek,

percuma!"

" Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek.

Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya."

Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya

menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah

berubah dari keranjang arang yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam.

 

"Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'an. Kamu tidak

bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi,

kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam

hidup kita."

 

Jika kamu merasa email ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu.

 

Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) :

" Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan

mendapat ganjarannya"

 

  --

Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang

 

 

 

*another reminder from Mas.....Jakarta, 19 Sept 2007


Blog EntryNasihat Ini Untuk Anda JugaAug 9, '07 5:20 AM
for everyone

Sebuah nukilan dari buku "Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah"

Semoga jadi pengingat untuk aq dan semuanya

Nasihat Ini untuk Anda Juga

 

Al-Imam al-Hasan al-Basri menasihati Umar ibnu Abdul Aziz dengan ucapannnya, “Sesungguhnya dunia ini suatu mimpi, sedangkan akhirat adalah kenyataan, dan kematian berada di tengah-tengah antara keduanya. Adapun kami bermimpi yang kacau.

 

Barangsiapa mawas diri selama hidupnya maka dia beruntung. Namun barangsiapa yang lengah dan lalai maka dia akan merugi. Barangsiapa selalu memandang kepada akibat maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang memperturutkan hawa nafsunya maka dia akan sesat.

 

Barangsiapa yang sabar dan tenang maka dia akan berhasil, dan barangsiapa yang takut maka dia akan selamat. Barangsiapa yang memahami, dia akan mengetahui. Barangsiapa yang berilmu maka dia akan memahami.

 

Apabila kamu tergelincir, kembalilah, dan bila kamu menyesali sesuatu, jangan diulangi. Apabila kamu tidak tahu, bertanyalah, dan bila kamu marah maka tahanlah dirimu.

 

Orang yang mulia akan terhormat dalam pandangan manusia, namun apabila dia menunjukkan kerakusan pada dunia maka dia akan di rendahkan. Omongannya tidak disukai dan dibenci.”

 

 

 

http://abuluthfia.multiply.com/journal/item/145/Nasihat_Ini_untuk_Anda_Juga

 


Blog EntrySEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAKMar 21, '07 2:51 AM
for everyone

Tadi baca postingan seorang teman yang bisa menjadi masukan untuk semua walau agak sedikit panjang artikelnya.

 

Oleh: Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd


Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah.


Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.


BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK


Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.


“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” [An-Nisa : 58]


“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


“Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]


“Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]


SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK


Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.


Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.


Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.


Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.


[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak. Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.


Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.


[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani. Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.


[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong. Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.


[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak. Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.


[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil. Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.


[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran. Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.


[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran. Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik


[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya. Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.


[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja. Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.


[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya. Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.


Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab.


[Disadur oleh Ummu Shofia dari kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al-Mazhahir Subulul Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton, Gondangrejo – Solo]

 

Terima kasih Abulutfi untuk postingannya....


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help