Sahabat,
Telah banyak tahun kita melewati semua hal bersama.
Tahun-tahun yang memberi kita banyak kenangan dan pelajaran.
Tahun-tahun dimana kita menjalani banyak hal juga kegilaan.
Tahun-tahun dimana kita semakin mengenali satu sama lain.
Tahun-tahun dimana hampir tidak ada hal yang tidak kita ceritakan.
Sahabat,
Ketika beberapa waktu lalu kau mengungkapkan keinginanmu, sungguh aku risau.
Aku tak yakin apakah ini adalah suatu hal yang baik untuk kita.
Aku takut, hal ini justru akan menjauhkan kita.
Sehingga berulangkali kutanyakan padamu mengenai niatmu itu.
Sahabat,
Ternyata aku benar,
kita memang tidak menjadi jauh.
Tapi ada sebuah lubang menganga diantara kita saat ini.
Sahabat,
Saat ini aku berusaha meredam semua kekalutanku.
Aku tak mau berbohong bahwa aku tak kecewa.
Aku tak mau berbohong dengan mengatakan aku tak marah.
Tapi aku juga tak mau semua hal yang kita lewati terbiaskan karena hal ini.
Terlebih kita telah berhasil melewati masa terburuk kita.
Sahabat,
Jika kau berada diposisiku saat ini, apakah yang akan kaulakukan?
Karena kau tau pasti bagaimana posisiku saat ini.
Sahabat,
Sesungguhnya aku dapat mengira apa yang akan kaulakukan,
tak lebih karena aku sangat mengenalmu.
Tapi aku tak mungkin bisa melakukannya,
tak lebih karena sayangku padamu.
Karena sebuah persahabatan yang telah dan akan terus kuagungkan.
*Jakarta, 19 Februari 2008.
Suatu sore dimana kukembali harus meredam kekecewaaanku demi sebuah persahabatan.