Setelah berbagai versi yang selalu memancing untuk mengganti channel dengan wajah bersungut-sungut, akhirnya ada juga yang berhasil mencuri perhatian bahkan membuatku tertegun menyimak hinggga ia selesai setiap kali ia muncul.
Membandingkan iklan satu ini dengan iklan bertema Kebangkitan Nasional yang lain mungkin bisa dikatakan tidak pas. Karena sebagian iklan yang lain itu tak lebih hanya ajang mempopulerkan diri guna Pemilu tahun depan, sehingga isinya pun tak lebih dari jargon-jargon yang terasa hambar. Buang-buang duit kalau saya bilang.
Untaian kalimat yang disampaikan dengan sangat sederhana ini, benar-benar tak terasa sederhana.
Bangkit itu susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu takut
Takut untuk korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya
Bangkit itu malu
Malu menjadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku
Merasa familiar dengan untaian kata penuh semangat itu? Untaian kata yang sama sekali tidak terasa sebagai ajang mempopulerkan diri, kata – kata yang justru mengingatkan kepada diri sendiri.
Kata-kata yang disampaikan dengan penuh makna, yang sungguh membangkitkan semangat sebagai anak bangsa. Yang membuat diri berkaca dan terhenyak.
Saya tak tahu apakah Pak Dedy Mizwar sendiri yang membuat rangkaian kalimat penuh makna ini, tapi siapapun itu, ia telah berhasil memecut diri ini agar tidak lupa akan jati diri bangsa dan terus berjuang agar bangsa ini dapat berdiri tegak dan tak terinjak-injak.
Semalam, saya mendengar bahwa pinangan dari berbagai parpol mulai datang, dan kabarnya beliaupun menolaknya. Salut saya untuk itu, dan sungguh kasian para parpol itu.
Tidak, sungguh saya tak keberatan jika akhirnya beliau nanti terlibat dalam sebuah Partai Politik. Itu kan hak beliau sebagai warga negara.
Tapi saya berharap, jikapun nanti beliau akhirnya melibatkan diri dalam sebuah Partai Politik, itu karena pilihannya dan sesuai hati nuraninya. Bukan karena orang-orang yang ingin memanfaatkan popularitas gratisan dan bukan juga karena Pak Dedy ingin memanfaatkan popularitasnya.
*Jakarta, 27 Mei 2008